Melow, Jadul, dan Ga Ada Judul

Standard

Semua orang yang memasuki jalan dakwah ini, mungkin pernah merasakannya, saat-saat berazzam meninggalkan masa lalu. Eh, iseng-iseng ngebuka puisi-puisi lama, ketemu juga puisi melow sangat ini, haha. Ini dibuat di tahun-tahun awal perkuliahan di Psikologi, dan kalau dibaca sekarang…, entah kenapa jadi senyum-senyum sendiri.

Tapi, lumayanlah, puisi ini sebagai pengingat diri, sudah sejauh ini melangkah, berusaha berjalan di jalan kupu-kupu, semoga semuanya menjadi indah pada waktunya. Sudah mengupayakan yang terbaik sejak awal proses, semoga seterusnya tetap baik, kalaupun ada kekurangan semoga bisa diperbaiki dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Semoga berujung di surgaNya, InsyaAllah, Aamiin 🙂

maka akan aku biarkan

satu bagian dari hatiku

untuk tetap jadi seputih salju

tak boleh ada yang menyentuhnya

menjadilah ia bagian yang suci

utuh dan  tak tersentuh

biar kini bagian itu tertutup

sampai tiba saatnya

lalu bagian suci itu

akan  kusimpan dalam peti rahasia

dan kuncinya akan aku titipkan

padaMu Yang Maha Penjaga

jika waktunya tepat

pilihkanlah untukku

dari milyaran makhluMu yang laki-laki

untuk menjadi sang pemilik kunci

jika waktunya tepat

aku akan menghubungiMu

lewat istikharahku yang panjang

kumohon berilah aku pertanda

lewat isyaratMu yang paling agung

tunjukkanlah yang mana pilihanMu

berilah petunjuk sepanjang jalan

sehingga aku sampai pada pilihanMu

kemudian…

berikanlah kunciku kepadanya

pada laki-laki yang Kau pilih itu

lalu berilah dia pertanda

lewat istikharahnya yang panjang

lewat isyaratMu

tunjukkan padanya bahwa aku orangnya

berilah laki-laki itu petunjuk sepanjang jalan

sehingga ia tahu bahwa aku ada

setelah itu…

beritahukan padanya

lewat isyaratMu yang agung bahwa:

tak ada yang dapat aku persembahkan

selain ketaatan padanya

bisikkan padanya

lewat bahasaMu yang indah bahwa:

tak ada bagian yang indah dari diriku

kecuali rasa malu

beritakanlah kepadanya

lewat pertanda-pertanda bahwa:

tak ada kemuliaan pada diriku

kecuali rasa takut dan harap padaMu

lalu…

jika kami bertemu

kumohon jangan izinkan dulu

ia membuka peti itu

berilah laki-laki itu kesabaran

sampai harinya tiba

ketika janji agung itu terucap

ketika gerbang itu terbuka

ketika berkahMu tercurah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s