isak, tangis, jerit

Standard

Cuma manusia yang bisa

Kau tahu?

Menahan apa yang ada di benak

Lalu berlari menyaingi angin

Apa yang kau tahan?

Pundakmu naik turun, Bunda…

Isakmu kian menjadi

Apa luka itu masih menganga, Bunda?

Lalu…

Hanya garam yang anak-anakmu taburkan di luka itu

Mereka semua durhaka

Seperti Malin?

Aku tahu pundak mu naik turun, Bunda…

Pada akhir malam

Isak itu akan berubah jadi tangis

Benar?

Dan pundakmu semakin menunduk

Aku tahu engkau memohon kasih

Apakah kasih yang kau harapkan

Atau puja?

Detik dalam jenak-waktu yang kau lewati

Angin pun membawa kabar

Telingamu menerima dengan tak sabar

Sampai tangismu berubah jadi jerit

Jangan tahan lagi, Bunda…

Biar jeritmu terbawa angin

Lalu ia sampai pada malin-malin itu

Juga pada jiwa-jiwa

Apa jeritmu setiap hari

Yang membawamu sampai ke kandang itu?

Lalu jenak-waktu mengembalikanmu

Pada Siklus abadimu: Isak, tangis, jerit

Siklus abadimu menarik malin-malin

Ia mencibir, kadang menghina

Malin-malin itu akhirnya tahu

Bahwa di lubukmu, ada luka yang menganga

Namun jenak yang kau lewati di kandang itu

Serta waktu yang kau jalani di akhir hidup

Akan menjadikanmu lupa

Namun tidak dengan jiwa-jiwa

Advertisements

About risyacempaka

I am a wisdom seeker, mencari ilmu dan hikmah dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. mendengar lebih banyak supaya mendapat ilmu lebih banyak. menangkap ilmu dengan tulisan, kemudian mengamalkannya. dan tak lupa menyampaikannya pada orang lain. karena agama adalah nasihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s