BEBAS

Standard

Betapa hari ini aku begitu bangga pada diriku, aku hanya memperbolehkan dirimu melihat punggungku pergi meninggalkanmu. Hari ini aku tidak mengizinkan dirimu menyapaku, dan begitulah yang terjadi selama beberapa tahun terakhir ini. Aku yang akan bicara padamu jika aku mau, dan dirimu tidak akan pernah lagi punya hak untuk berinteraksi denganku.

Aku sungguh tidak menyimpan dendam, hanya saja aku ingin mengatur hidupku sendiri, aku ingin mengatur perasaanku sendiri, aku ingin tegak di atas kakiku sendiri, aku tidak akan pernah lagi menggantungkan harapanku pada makhluk. Dan itulah aku hari ini… hari ini aku tetap melangkah pergi meninggalkanmu, dan ternyata aku masih dapat tersenyum, aku masih dapat tertawa dan menikmati kehidupan, dan hari-hari yang aku lalui beberapa tahun terakhir ini begitu indah, ternyata aku masih bertahan, aku masih mencari apa yang ingin aku cari, dan aku masih mengejar apa yang ingin aku kejar, dan aku begitu bebas, karena aku tahu arti kebebasan yang sesungguhnya.

Bebas adalah aku tak menggantungkan harapan selain pada Allah dan diriku sendiri

Bebas adalah aku tahu apa yang aku inginkan, dan aku berada di jalan yang benar untuk menggapai apa yang aku inginkan

Bebas adalah aku tak terbelenggu pada hawa nafsuku

Bebas adalah… aku masih bisa bersyukur atas semua yang terjadi pada diriku

Bebas adalah aku terbebas dari rasa takutku sendiri

Dan hari ini aku bebas, aku membebaskan diriku… bahkan dari diriku sendiri

Rintik hujan yang membasuh bumi hari ini membebaskan aku, dinginnya udara malam hari ini membebaskan aku, senandung yang aku dengar hari ini membebaskan aku, tawa-ku hari ini membebaskan aku, riang-ku hari ini membebaskan aku, ikhlas-ku hari ini mebebaskan aku, lelapku hari ini membeabaskan aku, hangatnya dekapan bunda hari ini membebaskan aku, do’a-ku hari ini membebaskan aku, shalat-ku hari ini membebaskan aku, dzikir-ku hari ini membebaskan aku, lantunan ayat suci-Mu membebaskan aku, diri-ku membebaskan aku.

Aku masih akan terus berjalan, dengan izin Allah SWT, dan tidak akan pernah lagi melihat ke belakang, aku mendoakan kebahagiaan-mu dan kebahagiaan-ku.

Dalam gelap malam, aku berdo’a agar Allah selalu menjaga diri-diri kita, hanya penjagaan-Nya yang dapat kuandalkan, aku tak punya kekuatan untuk menjaga diriku sendiri, aku tahu saat-saat seperti inilah di mana aku paling membutuhkan penjagaan-Nya.

Jangan biarkan aku hilang dalam kebebasanku sendiri, jangan biarkan aku tersesat dalam diriku, jangan biarkan aku kesepian dalam kebebasanku, jangan biarkan aku menangis dalam kebebasanku, jangan biarkan aku cemas dalam kebebasanku, jangan biarkan aku tak terarah dalam kebebasanku, aku ingin tetap bebas, namun di jalan-Mu.

Dalam malam yang gelap dan dingin ini aku melihat secercah cahaya itu, cahaya yang akan membebaskan aku, maka kini aku terus berjalan ke arah cahaya itu, aku berjalan, hari ini atau esok, dan esoknya lagi aku akan tetap berjalan ke arah cahaya itu, walaupun lelah dan terseok toh aku masih akan tetap berjalan ke arah cahaya itu. Tak tahu kapan akan ku gapai cahaya itu, namun cahaya itu semakin hari terlihat semakin terang, biarlah cahaya itu yang akan membimbingku, dalam hari-hari ku, hanya secercah cahaya itu yang dapat kuandalkan.

Cahaya itu kunamakan hati nurani…

 

Cimahi, 23 September 2009, 2:21

 

 

(dari buku harian lama, sesuatu yang selalu teringat di akhir Ramadhan)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s