Cinta Ada pada Bisikan

Standard

 

Suatu sore aku berjalan menuju asrama mahasiswa UNPAD, memaksakan diri berjalan dengan sisa-sisa tenaga sehabis kegiatan di asyakir, hari itu aku sedang shaum, dan rasa dahaga serta lelah menjalar di seluruh tubuh. Tapi tetap harus memaksakan diri berjalan dari gerbang menuju poma, demi membaringkan diri di tempat tidur tercinta.

Di tengah perjalanan aku bertemu (tampaknya) sepasang suami istri yang berteriak-teriak di sepanjang perjalanan mereka, kebetulan mereka berjalan berlawanan dengan arah pulangku. Ya benar, berteriak-teriak, sesekali sang istri yang memaki, kemudian dibalas dengan cacian dari suaminya. Untungnya jalanan sedang sepi hari itu, karena memang sedang tanggal merah, mahasiswa tidak ada yang berkeliaran.

Bahkan, mataku melihat sang suami yang akhirnya menampar pipi sang istri (tepat di depan mataku!), sepertinya sang suami sudah tak tahan lagi dengan ucapan sang istri (sebenarnya aku tak bisa menyebutnya ucapan, karena itu lebih mirip cacian, tuduhan, atau teriakan).

Dan akhirnya mereka berjalan dengan cepat, berlalu dari hadapanku. Entah kenapa setelah mereka berlalu beberapa saat, mataku berair, benar-benar menangis sepanjang perjalanan. Untuk sebuah kilasan kejadian itu, untuk pertarungan sengit sepasang suami istri yang bahkan tidak aku kenal, aku menangis. Mungkin karena saat itu aku lelah, haus, dan lapar, sehingga perasaanku menjadi lebih sensitif.

Mungkin aku menangis untuk lenyapnya kasih sayang di antara mereka, untuk rasa panas dan sakit di pipi istri akibat tamparan, dan terutama untuk lepasnya cinta akibat amarah di antara mereka. Sepanjang perjalanan pulang aku berpikir dan merenung, bagaimana bisa cinta yang dibina hilang tak berbekas, bagaimana bisa cinta berubah jadi benci?

Seakan teriakan dan cacian tak cukup untuk menyampaikan apa yang ada di hati mereka, maka tamparan dan kekerasan menjadi bentuk alternatif komunikasi di antara mereka, dan hatiku semakin bertanya-tanya, di manakah cinta?

Pada dua orang yang saling mencintai, cinta ada pada bisikan lembut di telinga pasangannya. Pada dua orang yang saling mencintai, cinta ada pada tatapan mata penuh kasih. Pada dua orang yang saling mencintai, cinta ada pada senyuman.

Namun bisakah cinta bertahan selamanya? Saat seseorang menua dan memperbaiki diri demi keutuhan cinta seakan tak dapat (atau tak ingin) dilakukan lagi, dapatkah cinta bertahan?

Jika suatu hari Allah menitipkan cinta, dapatkah aku merawat dan mempertahankan cintaku? Kemudian  aku menangis lagi, aku memohon padaNya suapaya aku diberi kekuatan untuk merawat cinta, jika suatu hari aku memiliki kesempatan untuk memilikinya. Supaya ketika aku menua nanti aku tetap berbisik pada orang yang aku cintai bahwa aku mencintainya. Ya, karena cinta ada pada bisikan.

 

Advertisements

About risyacempaka

I am a wisdom seeker, mencari ilmu dan hikmah dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. mendengar lebih banyak supaya mendapat ilmu lebih banyak. menangkap ilmu dengan tulisan, kemudian mengamalkannya. dan tak lupa menyampaikannya pada orang lain. karena agama adalah nasihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s