Surat

Standard

Suatu hari guru Bahasa Indonesia saya bercerita bahwa, salah satu sastrawan besar Indonesia, HB. Jassin memiliki satu buah museum yang di sana tersimpan semua hasil karyanya. Namun bukan hanya itu, di dalam museum itu juga tersimpan semua karya tulisnya dari mulai buku, cerpen, surat-surat, bahkan coretan tangannya di atas kertas sewaktu kecil.

Rupanya Ibu dari HB Jassin memiliki kebiasaan yang unik, dia mengumpulkan hasil coretan tangan anaknya, bahkan sejak ia pertama kali memegang pena dan mencoretkan tinta di atas kertas. Bukan hanya itu, setiap kali HB. Jassin kecil berkorespondensi ia selalu menyuruh anaknya utuk menyalin apa yang telah ditulisnya di dalam surat, kemudian ia menyimpan salinan surat itu, begitupun setiap surat dari teman atau kerabatnya, selalu disimpan dengan apik oleh ibunya. Dan kebiasaan ini berlanjut hingga HB. Jassin dewasa.

Alhasil, kini di museum itu tersimpan harta karun kesusastraan Indonesia, semua hasil karya HB. Jassin sejak kecil tersimpan rapi di Museum itu. Saya kagum dengan ibunda HB Jassin, apa sang ibu sudah tahu ya, bahwa suatu saat anaknya akan menjadi sastrawan besar Indonesia, atau sebaliknya, HB. Jassin menjadi sastrawan besar Indonesia karena sang ibu yang selalu mendorongnya untuk berkarya, dan menganggap semua yang berasal  dari tangan HB. Jassin adalah karya yang  berharga.

Suatu hari saya harap saya  bisa mengunjungi Museum ini. Tapi yang paling penting setelah mendengar cerita ini dari guru saya tersebut, saya menjadi lebih rapi mendokumentasikan tulisan-tulisan saya, surat-surat saya, buku harian saya, atau apapun yang merupakan coretan tangan saya, karena sesuatu yang telah tertulis adalah sejarah, dan dari sanalah kita kita mengambil pelajaran berharga. Seprti pepatah latin script manat verba Volant, yang tertulis akan tetap tinggal dan yang terucap akan berlalu bersama angin.

Nah, dari ide itu saya punya ide untuk mengumpulkan surat-surat korespondensi saya, dengan siapapun. Walaupun sulit, karena saat ini kita jarang berkorespondensi lewat surat konvensional, biasanya lewat sms ataupun surat elektronik.  Tapi tak apa surat elektronik pun sebenarnya sama fungsinya dengan surat biasa.

Namun yang paling menyedihkan dari  perkembangan teknologi adalah, kita jarang menulis dengan paragraf-paragraf yang panjang. Ide-ide kita menjadi dikekang dengan sedikitnya kata-kata yang bisa ditulis di sms, facebook, dan tweeter. Dan parahnya itu pun menular pada surat yang kita buat, biasanya kita hanya menuliskan pesan seadanya, yang penting inti pesannya sampai. Padahal ada seni dari paragraf-paragraf panjang yang kita buat dalam sebuah tulisan, terkadang ide-ide yang sebelumnya tak terpikirkan di awal menjadi tertuang indah dalam paragraph-paragraf yang kita buat.

Mungkin, atas dasar itulah saya memuat blog, supaya saya terprovokasi untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan yang panjang, bukan hanya status di facebook ataupun kicauan di twitter, ataupun sms semata. Karena menulis itu terapi jiwa. Dan teruslah menulis!

Dan bagian ini khusus untuk gudang penyimpanan surat-surat korespondensi saya dengan teman, kerabat, ataupun kiriman dari penggemar rahasia saya J (tentu saja nama disamarkan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s