Semua Bukan Salahmu (untuk semua anak korban perceraian yang ada di dunia)

Standard

Saat menghadapi perpecahan rumah tangga orang tua kita, kita selalu kembali menjadi seorang anak kecil. Bahkan diriku sendiri, lihat… aku masih melakukan hal yang sama, saat mengalami kesedihan masa kanak-kanak aku selalu masuk ke dalam lemari, menutup pintunya,lalu menangis sejadi-jadinya, dalam kegelapan lemari aku terisak, ya… aku melakukan hal itu kini, padahal usiaku hampir memasuki seperempat abad.

Saat menghadapi perpecahan rumah tangga orang tua kita, kita selalu kembali menjadi seorang anak kecil, yang bertanya-tanya, mengapa mereka bertengkar, mengapa mereka saling diam, mengapa mereka tak saling senyum satu sama lain. Seorang anak selalu merasa bersalah dengan pertengkaran orang tuanya, merasa kondisi tak mengenakkan di rumah adalah akibat kenakalan mereka. Bahkan aku pun seperti itu, aku bertanya-tanya: apa ini semua karena aku kurang berbakti pada mereka? Apakah karena aku kurang sholeh? Apakah karena aku tidak menyelesaikan skripsi tepat waktu? Apakah karena aku tak seperti yang mereka harapkan?

Namun saat ini aku sadar, semua yang telah terjadi ini, ini semua bukan salahku.

Jika dirimu berada dalam kondisi itu: lelah, merasa bersalah, merasa tak berarti, merasa tak punya masa depan, merasa tak ada yang menyayangimu, menangis, dan kesepian.

Sadarlah…

Percayalah ini semua bukan salahmu, kau tak pernah memilih dari rahim mana kau akan dilahirkan, kau tak pernah memilih dalam keluarga seperti  apa kau akan dibesarkan. Faktanya kini kau lahir dan besar dalam keluarga itu, yang ternyata sekarang tak utuh lagi, berdamailah dengan kenyataan, sungguh ini bukan salahmu.

Jika segala sesuatunya tak berjalan sesuai rencana, percayalah mereka pun tak berharap apa yang telah mereka bangun bertahun-tahun ini, lenyap dalam hitungan detik seiring kata-kata talak dikeluarkan, ini semua bukan keinginan mereka, mereka tak pernah merencanakan kegagalan. Dan itu semua bukan salahmu.

Rumah tangga ibarat sebuah istana yang bangunannya dibuat berdua oleh seorang laki-laki dan perempuan, jika istana itu hancur, mungkin karena mereka kurang kuat dalam membangun pondasinya, atau mereka… mereka  salah memilih bahan bangunan, mungkin ketika mereka membangun istana mereka mereka memilih membuatnya dari pasir. Memang bangunannya akan cepat selesai, menjadi bangunan yang tinggi menjulang, namun rapuh dan mudah rusak oleh terpaan angin.

Bahkan ketika istana itu runtuh, itu semua bukan salahmu, karena dirimu tak pernah ikut merencanakan pembangunan istana itu. Istana itu urusan mereka, tapi jika sekarang dirimu menjadi korban, terkena reruntuhan istana mereka yang runtuh, terluka parah, tertusuk dalam, ataupun berdarah-darah, bangunlah, sembuhkan lukamu. Jika tak dapat menyembuhkan sendiri luka-lukamu, mintalah bantuan orang lain.

Jika kau merasa tidak ada seorang pun yang dapat dimintai bantuan, menulislah, tuliskan semua kesedihanmu, kau perlu tau menulis itu terapi untuk segala persoalan psikis, menulislah walau itu terasa berat…

Lalu jika itupun tak dapat menghapus kesedihanmu, mengadulah padaNya, katakan kalau ini terlalu sakit, dan  kau sudah tak kuat lagi, mintalah padaNya yang Maha Kuat, agar ia menguatkan bahumu untuk tetap bertahan membawa beban ini.

Jika kau merasa ini semua memutarbalikkan keadaanmu, dari bahagia menjadi derita, sungguh itu bukan salahmu, karena begitulah dunia diciptakan, semua berpasang-pasangan, ada bahagia tentu ada derita.

Jika kau merasa merana,  kesepian,  dan tak ada yang memelukmu , aku berharap suratku ini menghangatkan hatimu, dan aku berharap doa-doaku memelukmu, biar damai bersemayam dalam jiwamu, aku ingin kau percaya bahwa semua yang terjadi bukan salahmu. Dan kau tak pernah sendirian.

Dan ini juga bukan salah Tuhan, dia tidak menciptakanmu untuk menderita, dia hanya membuatmu menjadi lebih kuat dan lebih tegar daripada anak-anak yang lain.

Percayalah ini semua bukan salahmu ataupun salahNya, dan ini semua tak akan membuat masa depanmu menjadi suram, jangan takut, doa’ku akan memelukmu, hingga kau merasa aman, dan percaya, bahwa suatu saat kau akan bahagia.

Sungguh masa depanmu tidak ditentukan oleh masa lalu mereka, karena kau ditakdirkan untuk menjadi seorang yang bernasib baik, beruntung, dan membawa keberkahan dalam hidup .  Kau tahu? dirimu adalah salah satu jawaban dari doa-doa mereka.

Kau tahu? ketika seorang muslim sudah dewasa, ia akan berdoa: Robbana Hablana min Adzwajina, Wadzurrota Qurrota a’yuni, waj ‘Alna lil Muttaqina Imaman. Mungkin Tuhan belum mengabulkan doa mereka untuk mendapat pasangan yang dapat menjadi penyejuk hati, Mungkin Tuhan belum menjadikan rumah tangga mereka sebagai teladan bagi orang-orang yang bertaqwa.

Tapi.. .dirimu adalah salah satu doa mereka  yang terkabul, dirimu adalah perwujudan Qurrota A’yun mereka. Dirimu adalah penghias mata mereka yang membawa kedamaian dalam kehidupan mereka. Apapun yang terjadi tetaplah menjadi anak yang baik, anak yang sholeh, kebanggaan mereka.

Mungkin ini semua akan menghilangkan senyuman dari bibirmu beberapa saat, mungkin ini semua akan menjadikan hari-hari yang kau lewati menjadi penuh tangisan. Tak apa, menangislah hari ini , tapi besok jangan…

Tetaplah berjalan, angkat kepalamu, tegakkan tulang punggungmu, melangkahlah, walaupun tangan-tangan kegelapan masa lalu menarik-narik tubuhmu untuk menoleh ke belakang, tidak! Jangan pernah kembali menoleh ke belakang.

Cukup! Cukuplah ini semua menjadi pelajaran bagimu. Suatu hari jika Tuhan mempercayaimu untuk membangun istana yang bernama rumah tangga, jangan pernah membuat istana itu dari pasir, jangan pernah membangun istana itu tanpa perencanaan yang matang!

Bangunlah istana itu dengan seorang yang dapat kau percaya, buatlah perencanaan yang matang, pilih bahan bangunan yang paling berkualitas, supaya istana yang kau bangun kokoh dan menjulang sampai ke surga-Nya.

Jangan pernah berhenti menjadi makhluk yang penuh cinta, percayalah memaafkan adalah bagian dari cinta, maafkanlah mereka, maafkan orangtuamu. Mungkin mereka telah kehilangan kasih sayang di antara mereka. Namun, kasih sayang mereka terhadapmu tak akan pernah berhenti.

Cimahi, 16 juni 2011

Soundtrack: Rain and Tears (Demis Roussos)

Advertisements

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s