Sebuah Keputusan Besar

Standard

2/12/2011, 1:51 PM

Suatu hari di tengah les Bahasa Jerman, si Pamung, tutor kami, ngobrolin soal kucing dengan salah satu teman saya, si Guntur yang penyayang binatang (banget! Guntur bisa dibilang pakar perkucingan), si Pamung nanya:, “Kucing Ras itu kayak apa sih waktu masih bayi?” kemudian tutor kami itu bercerita bahwa kemarin saat dia pergi ke salah satu pet shop langganannya dia ditawari untuk mengasuh anak kucing persia.

Jadi ceritanya si pemilik pet shop itu dititipi oleh seorang langganannya tiga ekor anak kucing, harapan si ibu itu mudah-mudahan dari orang-orang yang berkunjung ke petshop tersebut ada yang mau memelihara salah seekor dari tiga ekor kucing itu

Kata si pemilik pet shop , si ibu yang nitipin kucingnya bilang kalau kucing-kucingnya itu keturunan ras asli Persia, si Pamung sih percaya nggak percaya, makanya dia nanya-nanya ke si Guntur, sebenernya kayak apa sih kucing ras waktu dia masih kecil, yaaah si Guntur sih bilangnya, anak kucing ras sama aja kayak anak kucing yang bukan ras, sewaktu mereka masih kecil.

Nah, tertarik dengan kata-kata Persia, saya langsung mengajukan diri untuk menjadi ibu asuh dari salah seekor kucing yatim piatu itu, si Pamung sih oke aja, asal saya ikut pergi ke Pet Shop, soalnya si Ibu itu wanti-wanti banget supaya kucingnya bener-bener dipelihara sama orang yang bener-bener penyayang binatang

Well… saya juga nggak yakin saya ini penyayang binatang atau nggak, saya nggak pernah sih bener-bener ngerawat binatang, emang sih di rumah saya sering banget ada kucing, tapi biasanya yang ngerawat kucing-kucing itu si Jamilah (adik Bungsu saya) atau Ummi…

Tapi saya sih pede aja, soalnya dengan agresi min 3 dan nurturence plus 3 (diukur dengan alat tes psikologi MBTI) saya yakin kalo saya akan menjadi ibu asuh yang baik untuk kucing yatim piatu itu

Nah.. Begitulah dengan pertimbangan yang cepat, saya pun menjadi ibu asuh untuk anak kucing persia yatim piatu itu… pergilah saya dan tutor saya ke Pet Shop One Way di daerah Cileunyi, sebenernya pas kita dateng Pet Shopnya tuh masih tutup, Cuma saya maksa-maksa aja ketok-ketok pintu, abis kalo harus balik lagi ke LernHaus kan sayang, kita udah pergi jauh-jauh, eh nggak dapet apa-apa…

Wow, kayaknya saya emang udah jodoh sih sama kucing itu, si pemilik lagi ada di petshop Cuma emang belum waktunya buka aja, dan untuk pertama kalinya saya melihat kucing persia yatim piatu itu… dari 3 ekor kucing itu saya memelih kucing saya yang sekarang, yang paling bersih dari ketiga ekor kucing itu, selain itu dia juga kucing jantan, saya males kalau harus mellihara kucing betina, karena nanti dia akan melahirkan, dan kita akan kesusahan ngejaga anak-anaknya nanti

Nah jadilah saya membawa kucing itu, seekor kucing persia jantan yang sangat berisik, saya bener-bener kelimpungan untuk membuat dia berhenti “menangis” di sepanjang perjalanan ke Cimahi… sebenernya kasian juga sih penumpang yang ada di bis, hehe… bis eksplore kan emang PW banget buat dipake tidur siang, cozy banget, tapi hampir sepanjang perjalanan si kucing mengeong dengan kerasnya, udah saya elus-elus, saya kasih makan,eh dia tetep mengeong, tapi beberapa menit dia sempet tertidur sih…

Yah akhirnya setelah perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan, akhirnya sampailah kucing itu di rumah kami, kucing manis, manja, kecil, dan susah disuruh diam. Dan datanglah satu tanggung jawab besar dalam hidup saya untuk merawatnya, menyayanginya, mengurusnya dan memanjakannya.

Saya rasa ini suatu keputusan yang besar, karena kucing adalah makhluk hidup ciptaan Allah, aku jadi ingat kata-kata adik juniorku di kampus dulu, waktu lagi perkenalan di mentoring kelompok kami, moto hidup adik itu adalah: Tuhan menyayangi kita melalui orang lain, danTuhan menyayangi orang lain melaui kita… benar mencintai adalah tugas yang besar, dan menurutku sebagai makhluk hidup yang bisa mencintai kita harus membagikan kasih sayang ini kepada makhluknya yang lain, tentu saja bukan hanya manusia, namun juga binatang, pohon, dan lingkungan di mana kita hidup.

Keputusan akan melahirkan tanggung jawab, saya tau sekarang kehidupan kucing kecil itu akan bergantung kepada saya, saya harus menyediakan makanannya, minumannya, dan menjamin kebersihan, kesehatan serta kondisi psikologis kucing itu 🙂

Dan tentu saja saya harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk si kucing, biaya untuk makanannya, shamponya, dan mainannya. Tapi itu cuma konsekuensi dari sebuah keputusan, dan tentu saja saya harus menanggungnya, karena saya telah memutuskan untuk memelihara kucing kecil itu

Tak terasa suda hampir seminggu kucing itu di rumah saya,saya pun menjalani hari-hari yang menyenangkan, tapi tak jarang melelahkan. Menyenangkan karena mengelus-ngelus kucing membuat perasaanku tenang, apalagi kalau sampai dia tertidur di pangkuan, rasanya semua stress jadi hilang. Yah tak usah khawatir berdekatan dengan kucing karena kucing adalah binatang yang suci, setiap hari dia membersihkan dirinya dengan air liurnya, ternyata Allah telah menciptakan zat antiseptik di air liur kucing, sehingga ketika dia menjilati tubuhnya tersebarlah zat antiseptik itu di seluruh kulitnya, itulah yang menjadikan kucing menjadi binatang yang suci.

Tapi untuk jaga-jaga saya sih tetap memandikan kucing saya 2 kali seminggu, karena walaupun dibiarkan secara alami kucing sudah bersih, tapi saya senang memandikan kucing karena shampoo yang saya beli ada aromaterapinya, jadi setiap deket-deket kucing itu saya jadi menghirup aromaterapinya, dan saya menjadi semakin rileks, lumayan kan untuk menghilangkan stress sehari-hari…

Nah, itu tadi di atas adalah saat-saat menyenangkan bersama kucing baruku, nah… saat-saat melelahkannya adalah di malam hari, ketika keluarga kami menuju peraduannya masing-masing, entah kenapa kucingku itu punya jam tubuh yang ngaco, jadi kalau di siang hari dia banyak tidur, maka di malam hari dia akan menagis keras kadang minta diajak main atau hanya ingi dielus-elus, itu tuh yang membuat orang-orang rumah jadi marah-marah (terutama adikku Dzulfikar dan Nabilah yang “agak” membenci kucing). Dia akan mulai diam ketika aku mengelus-ngelusnya, melelahkan melakukannya di malam hari di saat saya juga butuh tidur, apalagi untuk hari-hari pertama di saat si kucing juga harus beradaptasi dengan rumah barunya, wew dia sanga rewel… tapi saya harus sabar… lumayanlah sekalian latihan kalau nanti punya bayi, saya akan terbiasa bangun malam untuk menenangkan bayi yang suka terjaga malam hari 🙂

Yang pasti, lambat laun sikap keluargaku terhadap si kucing kecil semakin melunak… ya iyalah kucing se-imut itu siapa yang tak tersentuh hatinya melihat makhluk kecil yang tidak berdaya itu, bahkan adikku Dzulfikar yang setiap hari berkoar-koar bilang kalau besok dia akan membuang kucing itu di Batujajar, sampai sekarang tidak membuangnya, hoho

Kucing… tahukah? Aku mendoakan kesejahteraanmu di akhir sholatku, semoga kau bahagia dalam pemeliharaanku, tak kurang satu apapun, nanti ku akan melepaskanmu, kelak kalau kau dewasa dan sudah puber, carilah kucing betina yang sholehah yang akan menjadi pendampingmu, saat itu aku tidak akan menghalang-halangimu lagi… 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s