Sebuah Episode Hujan di FLP Jatinangor

Standard

Aku tahu kita akan terus menulis,

karena kita memang cinta menulis

Aku tahu kita akan jadi penulis,

karena kita memang terus menulis

Kau menanti masa itu?

 

Kadang saya memang sengaja datang terlambat ke FLP, karena saya malas menunggu, kemarin hari Sabtu, saya mencoba ontime datang rapat, namun…yang terjadi saya harus menunggu, yah…menunggu yang lamaaaaa sekali, untuk sekedar rapat. Bila saat itu saya tidak membawa bacaan apapun, akan sungguh sial, karena waktu akan terbuang sia-sia.

Senin sore itu, sengaja saya sengaja bermalas-malasan dulu di tempat tidur, daripada menunggu on the spot (hehehe…jahat sih sebenernya), tapi kan kayaknya kalian juga bakal terlambat datang.

Lalu, jika masa itu tidak juga mendekat

Maka aku yang akan berlari

Supaya masa itu mendekat

Dan semua terjadi

 

Jadi, pada waktunya… Saya bergegas menemui kalian, untuk sekedar mendapat semangat menulis, melihat kalian yang datang, yang masih memiliki mimpi untuk menjadi penulis, penyair, sastrawan, atau jurnalis. Sungguh menemui kalian membuat saya tak takut untuk memiliki mimpi, saya pun tak takut untuk terus mencoba.

Walaupun sedikit ada sesal di dalam hati, jangan-jangan aku membuat kalian terlambat untuk memulai, ada waktu yang kalian gunakan untuk menunggu?

Namun waktu…

yang kita habiskan untuk menanti

demi sebuah pertemuan

dan diskusi panjang kita dalam senja-hujan

 

Apa yang akan kalian lakukan untuk membuang jenuh? Untuk menjadikan waktu tak lagi sia-sia?

 

Kau membunuh waktu

Sementara yang lain mengejarnya!

Aku bergegas menemuimu

Andai kau tahu

Agar senja ini tak sia-sia

Lalu setelah kita semua berkumpul, mulailah diskusi panjang kita, tentang sejarah FLP Jatinangor, tentang suksesi kepemimpinan, tentang cita-cita kita bersama

Kau bercerita pada diskusi kita di senja-hujan itu

Nyanyian perjalanan, kepingan sejarah,

Sejumput senyum, serta tawa kita

Membuat aku sadar

Bahwa ini semua harus diteruskan

Apa yang kau nanti?

 

Akhirnya senja semakin gelap, awan yang tadinya kelabu menjadi hitam, dan seperti rencanaNya, turunlah hujan. Lalu rencana Tuhan menitis menjadi rencana Jatinangor: jika hujan turun dengan deras disertai petir dan kilat yang bertubi-tubi di Jatinangor, maka padamlah listrik di Jatinangor. Mungkin semua bergerak di atas rencananya, pun waktu yang kita habiskan untuk menanti hujan dalam kegelapan Jatinangor, semua terjadi karena tindakan kita bertemu rencanaNya

Jika kau memilih menanti hujan reda

Maka aku memilih untuk menerobosnya

Karena hujan hanyalah penyejuk pikiran

Dan gelap hanyalah obat lelah

Kau lihat aku masih bisa menari

di bawah rintiknya!

 

Malam, menyampaikan kita pada peraduan masing-masing. Akhirnya saya sampai pada kamar tercinta, saat itu listrik masih padam, kamar hanya diterangi temaram lilin, namun redupnya malah membuat saya semangat mengambil kertas dan pena, lalu saya menulis: semoga senja hari ini berarti untuk kalian, teman-teman FLP Jatinangor…

 

Hingga akhirnya tarian berakhir…

Gelap taat pada rencanaNya

Hingga senja pun menjadi malam

Di malam-hujan ini aku berdoa

Semoga senja hari ini tak sia-sia

Jatinangor, 4/09/2010, dalam temaram lilin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s