Tiga Minggu Tanpa TV

Standard

Dari semua teori parenting yang saya coba terapkan ke anak saya, mungkin yang paling sulit saya terapkan adalah: makan untuk makan. Ini maksudnya adalah dalam kegiatan makan, hendaknya anak hanya makan dan tidak melakukan kegiatan lain selain makan. Terus terang ini sulit sekali bagi saya.
Alasannya mungkin klise, daripada anak susah makan, lebih baik menjadikan kegiatan makan menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi anak, misal dengan disambi kegiatan jalan-jalan keliling komplek, makan bersama teman di halaman rumah (yang juga balita), sambil bermain (sehingga Ummi harus mengejar-ngerjar Afia), atau sambil nonton (TV atau youtube).
Tentu bukan tanpa rasa bersalah saya melakukannya. Sudah tentu saya meraa galau, bagaimana jika ini jadi kebiasaan Afia sampai besar. Apalagi untuk kebiasaan makan sambil nonton TV, walaupun mendengar cerita-cerita ibu-ibu muda lainnya hal ini merupakan hal yang lumrah, karena ya itu tadi “yang penting anaknya makan”.
Khusus untuk kegiatan makan sambil nonton Tv ini, ternyata membewa implikasi yang buruk,karena ternyata Afia tidakmau Tv-nya dimatikan setelah kegiatan makan selesai, ya, sudahlah makan sambil nonton TV, ditambah waktu menonton di depan layar (screentime)yang lama, lengkap sudah.
Sampai suatu hari terjadilah pemadaman listrik bergilir di wilayah kediaman kami, hari itu hampir seharian listrik padam. Dan tentu saja seharian itu Afia tidak nonton TV. Walaupun sulit awalnya menjelaskan apa artinya mati listrik, namun akhirnya Afia bisa menerima bahwa pada saat pemadaman listrik, kami tidakbisa menyalakan semua peralatan elektronik.
Sesungguhnya hari itu berjalan lancar, dan ternyata sangat mengejutkan bahwa Afia bisa makan tanpa TV, ya, seharian ia tetap asik bermain, tanpa screentime seharian, baik dari TV ataupun dari gadget lainnya.
Tiba-tiba terpikirkan oleh saya, bagaimana jika kejadian hari ini terjadi seterusnya (ok, bukan pemadaman listriknya tapi “hidup tanpa screentime”-nya). Maka mulailah seya merencanakan sesuatu. Ketika listrik kembali menyala, kami bersorak, hari itu listrik kembali menyala di malam hari sekitar jam 7 malam.
Afia tiba-tiba ingin menonton film kartun kesukaannnya. Saya hidupkan TV (tapi dengan kabel yang tidak menempel ke stop kontak), ketika saya mencoba menghidupkan TV dengan remote, saya katakan pada Afia, “Tuh ga bisa Afia, susah nih, Tv-nya mati”.
Afia yang masih berusia 2,5 tahun pun menangis, tapi ternyata tidak terlalu lama. Maka hari itu dan seterusnya, ketika anak saya meminta untuk dihidupkan TV saya kembali memakai settingan tersebut, kabel TV dicabut, dan saya berusaha menghidupkan TV dengan remote (tentu tidak bisa). Hari demi hari akhirnya Afia bisa menerima bahwa Tv-nya mati tidak bisa dihidupkan. Tentunya saya tidak sepenuhnya berbohong bukan? Memang Tv-nya mati (tapi karena kabelnya belum tersambung ke listrik). Untungnya anak saya masih belum mengerti bahwa untuk menghidupkan TV dibutuhkan listrik, yang ia pahami adalah untuk menghidupkan TV debutuhkan remote 😀
Dan kini sudah 3 minggu lebih satu hari, Afia hidup tanpa TV, tentunya butuh kerjasama dengan suami untuk merencanakan “hidup tanpa TV” ini, untungnya Pak Suami, sangat mendukung rencana saya ini. Sehingga kini kami hanya menyalakan TV di kala Afia tidur. Dan saya pun merasa tenang, karena screentime anak saya berkurang, saya pun dapat menghilangkan rasa bersalah saya.

Advertisements

Mengembangkan Mindmap Menjadi Skema Tulisan

Standard

Alhamdulillah diberi kesempatan ntuk menjadi member KMO (Kelas Menulis Online) Batch 08. Kali ini akan saya share materi kedua KMO: Bagaimana mengembangkan ide, dari mind map menjadi Skema Tulisan, lebih spesifik lagi menjadi daftar isi sebuah buku.

Pertama pikirkan tema dari tulisan Anda, sebagai contoh tema tulisan saya kali ini tentang “dont forget to love your self”

Kedua, buat mindmap, sebagai contoh di bawah ini, maindmap yang saya kembangkan dari tema saya (“dont forget to love your self”)

Menampilkan P_20161223_012808.jpg

Selanjutnya kelompokkan point-point dari mind map tersebut menjadi daftar isi, yang mengerucut dari umum ke khusus, contohyang saya buat:

BAB 1  Jadi Ibu Mengubah Hidupmu

BAB 2  The Dark Side

BAB3  Yang Harus Kamu Ketahui tentang SELF

BAB4  Apakah Kita Harus Berkorban (Al-Quran Menjawab)

BAB5  Catatan Untuk Semua Ibu

BAB6  Peka, Cinta, Bahagia

Bagaimana mudah bukan? Selanjutnya tinggal kita kembangkan tulisan kita dari skema besar yang telah kita buat

 

Itu Saja

Standard

step

 

Sungguh..

 

Aku tidak memintamu melengkapiku,

hidupku sudah bahagia penuh kisah dan kasih

namun, biarkan aku berjalan di sisimu

menemanimu di jalanan yang sepi

agar hidupmu riuh dan berwarna

 

Aku tidak memintamu melupakan masa lalu

namun, berikan aku satu kesempatan

menorehkan rona bahagia di kanvas hidupmu

yang penuh dengan berbagai garis dan warna

hingga seiring waktu, hanya ada aku

yang jadi warna masa lalu dan garis masa depanmu

 

Aku tidak memintamu mencintaiku

hanya saja di hatiku ada banyak cinta kasih

sudah kubagikan ke banyak makhluk di sekitarku

namun, hingga kini cintaku terus saja mengalir

maka menetaplah di hidupku

supaya cintaku bisa bermuara ke hatimu

 

Aku tidak memintamu menjadi milikku

hanya saja di rahimku ada (calon) makhluk kecil

yang memiliki taqdirnya sendiri

maka jadilah ayah yang baik untuk anak-anakku kelak

 

Aku tidak memintamu menjadi manusia sempurna

namun sempurnakanlah agamamu

dan terima aku dengan sempurna sebagai istrimu

Itu saja..

 

Jarak

Standard

Image

Aku mencintai jarak sebelum aku mencintaimu

Mencintai ruang dan waktu

Yang membuatku merindukanmu

 

Aku mencintai jarak sebelum aku mencintaimu

Mencintai detik  saat aku tak disisimu

Yang menjadikanku kekasih setiamu

 

Aku mencintai jarak sebelum aku mencintaimu

Mencintai kenangan yang kuukir bersamamu

Yang membuatku selalu mengingatmu

 

Aku mencintai jarak sebelum aku mencintaimu

Mencintai kehendak Tuhan atas diriku

Yang menjadikanku tetap milikmu

 

Aku mencintai jarak sebelum aku mencintaimu

Mencintai harapanku pada dirimu

Yang membuatku mendoakanmu selalu

 

 

 

Diari Keberuntungan (17)

Standard

count again

3/13/2013, 8:57 AM 381>> Merasa beruntung karena tidak dirayu sebelum dinikahi
  382 Teman yang sudah pacaran bertahun-tahun saja akhirnya putus di tengah jalan dan tidak melanjutkan ke tingkat hubungan yang lebih serius, maka aku bersyukur karena ada orang yang mengajak serius, dan tidak memberikan janji atau harapan palsu, bersyukur!
  383 Bu Rasni dan Bu Erna mau nge-riview skripsi aku, alhamdulillah
  384 Yakin jika semua ikhtiar akan tercatat, masih semangat kok! Alhamdulillah
  385 Punya Ummi, yang selalu mendukung, apalagi di saat-saat seperti ini
  386 Punya keluarga padang yang sangat solid, yang mau membantu, bahkan tanpa dipinta, Alhamdulillah
  387 Tek Nel dateng, menenangkan Ummi yang sedang galau, punya saudara yang baik itu yaaaa : keberuntungan!
  389 Sepertinya akan dapat gedung dengan sewa gratis, I Love Keluarga Padang, semoga ini benar kemudahan dariMu Rabb, hanya karena izinMu, maka mudahkanlah, kumohon
  390 Sudah menitip doa ke Om Ipir yang akan pergi ke tanah suci, semoga terkabul
  400 a BIG, BIG, BIG Family, Alhamdulillah
3/13/2013, 9:23 AM 401 Melangkah dengan keraguan, sama saja dengan tidak melangkah>>>dan aku tidak meragu, Alhamdulillah
3/17/2013, 7:40 PM 402 Alhamdulillah udah ada yang mau ngeriview skripsi aku
  403 Peluk nenek, perasaan jadi nyaman, terimakasih Allah untuk nenekku yang baik hati
  404 Menikmati saat-saat terakhir birrul walidayn pada Ummi-Abi
  405 Adik-adik yang lucu, yang ngebikin ketawa melulu, hihi
3/23/2013, 7:49 AM 406 Alhamdulillah perjalanan cililin-cimahi, bulak-balik selamat
  407 Pihak pesantren yang bisa diajak kerjasama
  408 Hujan siang-siang yang ngebikin adem
  410 Makan baso saat hujan itu ya… hmmmmm, enak banget
  411 Ngejagain anak bayi, dan entah kenapa jadi ngerasa senang
  412 Saudara-saudara yang mau mendukung
3/24/2013, 7:52 AM 413 Alhamdulillah pas aja waktunya, semua keluarga datang
  414 Acara yang sudah direncanakan berjalan lancar
  415 Seneng banget lah
3/26/2013, 7:56 AM 416 Dimudahkan untuk bertemu Bu Erna
  417 Ada Maya yang mau ngajarin SPSS
4/3/2013, 5:57 AM 418 Bu Juke baik banget, mau meluangkan waktu untuk aku
  419 Semua saudara-saudara yang begitu peduli
  420 Pengajian di mesjid Uswatun, pas banget materinya, tentang kematian
  421 98 hari lagi menuju ramadhan, semakin dekat saja
  422 59 hari lagi menuju hari H, semakin dekat saja
  423 Ada teman yang sudah bersedia jadi MC
  424 Teman-teman yang bersedia jadi pagar ayu dan pagar bagus
4/9/2013, 8:16 PM 425 Beres urusan di Cililin, sukses dan mudah
  426 Baso di cililin yang deket PLN itu yaaaa enak banget
  427 Paling seneng kalo lagi ke Cililin pas ngelewatin danau, adem ngeliatnya
  428 Ngeliat pegunungan dan perbukitan selama perjalanan ke Cililin
  429 Selamat sampai ke rumah, fiuhh!

 

Monumen atau Artefak

Standard

Apa yang kau bangun,

Apakah sebuah monumen,

Yang akan mengingatkanmu

Pada jenak terindah dalam hidup?

 

Apa yang kau simpan,

Apakah sebuah artefak,

Yang terkubur jauh di dalam bumi

Untuk kelak ditemukan oleh jiwa rapuh?

 

Apapun itu,

Tak mengapa ia menjadi kabar atau pun rahasia

Karena nanti angin yang akan membawa kabar

Dan air yang akan menghanyutkan rahasia

 

Monumen atau pun artefak

Kau yang membagunnya, atau

Kau yang menguburnya

Kau tahu mereka tak berarti

 

Monumen atau  pun artefak

Biarlah ia menjulang, atau

Biarlah ia hilang

Kau tahu mereka berarti

 

Yang kau simpan atau yang kau buang

Kau tahu mereka tak akan sirna

Waktu akan bergulir, angin akan berhembus

Air akan mengalir, dan rasa akan berganti

 

Tapi kenangan mengabadi

Sudah biarlah…