Tag Archives: puisi tentang waktu

Monumen atau Artefak

Standard

Apa yang kau bangun,

Apakah sebuah monumen,

Yang akan mengingatkanmu

Pada jenak terindah dalam hidup?

 

Apa yang kau simpan,

Apakah sebuah artefak,

Yang terkubur jauh di dalam bumi

Untuk kelak ditemukan oleh jiwa rapuh?

 

Apapun itu,

Tak mengapa ia menjadi kabar atau pun rahasia

Karena nanti angin yang akan membawa kabar

Dan air yang akan menghanyutkan rahasia

 

Monumen atau pun artefak

Kau yang membagunnya, atau

Kau yang menguburnya

Kau tahu mereka tak berarti

 

Monumen atau  pun artefak

Biarlah ia menjulang, atau

Biarlah ia hilang

Kau tahu mereka berarti

 

Yang kau simpan atau yang kau buang

Kau tahu mereka tak akan sirna

Waktu akan bergulir, angin akan berhembus

Air akan mengalir, dan rasa akan berganti

 

Tapi kenangan mengabadi

Sudah biarlah…

Melow, Jadul, dan Ga Ada Judul

Standard

Semua orang yang memasuki jalan dakwah ini, mungkin pernah merasakannya, saat-saat berazzam meninggalkan masa lalu. Eh, iseng-iseng ngebuka puisi-puisi lama, ketemu juga puisi melow sangat ini, haha. Ini dibuat di tahun-tahun awal perkuliahan di Psikologi, dan kalau dibaca sekarang…, entah kenapa jadi senyum-senyum sendiri.

Tapi, lumayanlah, puisi ini sebagai pengingat diri, sudah sejauh ini melangkah, berusaha berjalan di jalan kupu-kupu, semoga semuanya menjadi indah pada waktunya. Sudah mengupayakan yang terbaik sejak awal proses, semoga seterusnya tetap baik, kalaupun ada kekurangan semoga bisa diperbaiki dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Semoga berujung di surgaNya, InsyaAllah, Aamiin :)

maka akan aku biarkan

satu bagian dari hatiku

untuk tetap jadi seputih salju

tak boleh ada yang menyentuhnya

menjadilah ia bagian yang suci

utuh dan  tak tersentuh

biar kini bagian itu tertutup

sampai tiba saatnya

lalu bagian suci itu

akan  kusimpan dalam peti rahasia

dan kuncinya akan aku titipkan

padaMu Yang Maha Penjaga

jika waktunya tepat

pilihkanlah untukku

dari milyaran makhluMu yang laki-laki

untuk menjadi sang pemilik kunci

jika waktunya tepat

aku akan menghubungiMu

lewat istikharahku yang panjang

kumohon berilah aku pertanda

lewat isyaratMu yang paling agung

tunjukkanlah yang mana pilihanMu

berilah petunjuk sepanjang jalan

sehingga aku sampai pada pilihanMu

kemudian…

berikanlah kunciku kepadanya

pada laki-laki yang Kau pilih itu

lalu berilah dia pertanda

lewat istikharahnya yang panjang

lewat isyaratMu

tunjukkan padanya bahwa aku orangnya

berilah laki-laki itu petunjuk sepanjang jalan

sehingga ia tahu bahwa aku ada

setelah itu…

beritahukan padanya

lewat isyaratMu yang agung bahwa:

tak ada yang dapat aku persembahkan

selain ketaatan padanya

bisikkan padanya

lewat bahasaMu yang indah bahwa:

tak ada bagian yang indah dari diriku

kecuali rasa malu

beritakanlah kepadanya

lewat pertanda-pertanda bahwa:

tak ada kemuliaan pada diriku

kecuali rasa takut dan harap padaMu

lalu…

jika kami bertemu

kumohon jangan izinkan dulu

ia membuka peti itu

berilah laki-laki itu kesabaran

sampai harinya tiba

ketika janji agung itu terucap

ketika gerbang itu terbuka

ketika berkahMu tercurah

Sepotong Senja, Di Sudut Pagi

Standard

sun

I. Sepotong Senja

Ada dua bocah hiperaktif, bagai 2 elektron yang terus berputar di orbitnya masing masing. Kukira itu aku, salah satu dari bocah itu, bergerak di lintasan yang kukenal. Dan kurasa  yang satunya kamu, berputar di orbit takdirmu yang melengkung.

Entah apa sebabnya, di sepotong senja orbit kita bersinggungan. Lalu mengalunlah kisah-kisah pencarian jati diri, sepotong senja yang biasa, redup, riuh dan sibuk.

Lalu, jika kini kau ingin pergi menjauh dari orbitku. Maka, kurasa itu tak apa, karena aku hanya akan kehilangan sebuah pertemuan di sepotong senja, yang akan hilang ditelan sejarah.

namun, jika kau terus mengorbit di dekatku

mungkin aku akan menjadi seluruh senjamu

di mana kau selalu pulang melepas penatmu

yang menggunung karena mengarungi hari

II. Di Sudut Pagi

Ada dua orang dewasa yang berbincang di beranda. Di sudut  pagi yang biasa, cerah, rutin, dan bising. Lalu mengalirlah sebuah dialog, hanya obrolan lepas yang kikuk, rancu, dan tak berinti. Kukira itu aku yang terus meracau tanpa arah, dan kukira itu kamu yang terus bertanya retoris.

Lalu jika kini kau ingin beranjak dari berandaku, kupastikan itu tak masalah. Karena aku hanya akan kehilangan sebuah dialog di sudut pagi, yang akhirnya akan terhapus oleh terbitnya matahari baru.

namun, jika kau terus duduk manis di berandaku

mungkin aku akan menjadi seluruh dialog pagimu,

mungkin hanya sebuah dialog rutin yang mekanis

namun hangat dan mengisi relungmu yang kosong

III. Sepotong Senja, Di Sudut Pagi

Hanya aku sendiri, yang sedang berusaha meletakkan sepotong senja di sudut pagi, hanya supaya esok atau lusa aku bisa menikmati sisa hari, yang mungkin rutin, mekanis, dan biasa.

namun kurindu

mungkin kunanti

 

aku dan waktuku

Standard

Kini pun aku tak juga bisa menyudahi waktuku

Akhirnya aku bertatapan dengan kenyataan

Bahwa maut itu masih seperti dahulu

Dia tak pernah bisa diterka

Aku yang kini berhadapan dengan perbatasan

Namun tak juga mau berharap maju

Mungkin aku takut

Akan jenak waktu yang akan menghampiri

Tahapan-tahapan usia tiba-tiba datang menghampiri

Namun jenak-waktu yang selama ini mengalir

Ternyata tak kuisi dengan bijak

Hingga akhirnya aku…

Aku tersadar

Waktu yang tak juga bisa aku akhiri ini

ternyata bukan aku yang memulainya,

Karena sejak awal bukan aku yang mengatur

Bolehkah kini kuikuti kata hatiku saja?

Sebelum semua terlambat

Dan aku tak bisa menikmati jenak-waktu ini

Lalu akan kukatakan padanya dengan lantang

Bahwa aku tak menyesal

detik dalam waktu

Standard

Semua sampai pada penghujungnya

Detik dalam waktu yang kami lewati

Dalam derai hujan kami tertawa

Dalam terik  mentari kami tetap melangkah

Semua sampai pada tantangan usia

Nyatanya, ia hanya selembar kertas tipis saja

Ternyata kami tinggal mendobraknya

Dengan sepenuh semangat

Semua sampai pada gerbang selanjutnya

Kami saling melambaikan tangan

Tak akan berbalik lagi

Nyatanya, perpisahan itu adalah niscaya

Derai tawa akhirnya menjadi isak tangis,

Namun tak mengapa

Karena jauh di dalam hati kami

Kami tahu bahwa kami siap

WAKTU, MASA LALU, MIMPI , KHAYALAN, CITA, CINTA, DAN TUHAN

Standard

Hari ini WAKTU pergi bersama PAGI,

Ia meninggalkan MASA LALU

MASA LALU pun kesepian

Ia tidak pernah ditengok lagi

WAKTU akhirnya bertemu MASA DEPAN,

Tapi ternyata MASA DEPAN itu menyamar menjadi MIMPI,

MIMPI pun berbicara tentang KHAYALAN,

Dan KHAYALAN  ternyata buta

MASA LALU bergegas mengejar MASA DEPAN,

Ia pergi menyusul,dan menyeruak

Ketika MASA LALU berpapasan dengan dengan MASA DEPAN

Maka WAKTU pun terdiam…

Terdiam dalam kebekuan

Dan tak dapat bergerak

Padahal…

WAKTU hampir tertinggal

Tertinggal oleh TAKDIR

Karena ternyata TAKDIR tidak mengizinkan WAKTU diam,

TAKDIR pun berkata pada WAKTU:

Sudah tinggalkan saja MASA LALU,

berhentilah menengok ke belakang

Berangkatlah bersama MASA DEPAN

Jemputlah CITA

Dan jangan sertakan MIMPI, lalu tinggalkanlah KHAYALAN

Bergegaslah WAKTU…, lalu berdetaklah, maju, dan melangkah

Biar nanti kau temukan CITA

Maka apabila kau bertemu CITA, jangan lepaskan lagi!

Genggamlah tangannya

Jangan tatap wajah MASA LALU

Jangan dengar suara KHAYALAN

Teruslah melaju,karena siapa tahu kau akan bertemu

CINTA

Dan apabila kau bertemu CINTA

Dekaplah ia…

Jangan tatap wajah MASA LALU

Jangan dengar  suara KHAYALAN

Teruslah melaju, karena siapa tahu kau akan bertemu

TUHAN

…..